Ini Pengakuan Oknum Wartawan yang Diduga Peras Kepala Sekolah di Mamasa

“Saya bilang terserah dari kita pak karena saya juga tidak akan angkat kalau tanpa persetujuan ta’,” sambungnya.

Tak berselang lama lanjut Ismail, ia lalu pamit dan meninggalkan Ferli.

Saat hendak pulang, Ferli kata Ismail, memberikan uang sebanyak Rp.600.000, namun ia menolak dengan alasan tidak ada kontrak kerjasama antara keduanya.

Bacaan Lainnya

“Saya tanya ini uang apa, tapi dia bilang ini hanya membeli bensin. Dua kali dia kasih tapi saya tolak. Pas pulang, itu uang dikasih masuk di kantongnya teman saya,” bebernya.

Tak berhenti sampai di situ. Tiga hari setelahnya lanjut dia, Syahrul tak lain adalah penanggungjawab proyek itu, mendatangi Ismail.

“Dia datang bersama Pak Kanit Shabara atas nama Salim dengan ada dua orang yang saya tidak tahu,” katanya.

Syahrul kata Ismail, meminta agar pekerjaan pembangunan sekolah yang ia kerjakan, tidak diberitakan, dengan cara mencari solusi yang lebih baik.

Diakui Ismail, Syahrul meminta agar dia menemuinya di rumah milik Syahrul.

Keesokan harinya diakui Ismail, ia menemui Syahrul dan membahas masalah pembangunan sekolah itu, disaksikan Kanit Shabara.

“Tidak lama datang lagi Pak Kanit, dia bilang tidak usah mi dianu itu, cari saja yang baik-baik, bagaimana supaya menjalin kemitraan,” akunya.

Atas dasar itu lanjut Ismail, jika pihak sekolah bersedia, maka akan dibuatkan kontrak kerjasama.

Namun Syahrul menurut Ismail, menyarankan agar bertemu langsung ke Ferli selaku Kepala Sekolah.

Tak berselang lama, diakui Ismail, ia mendapat telepon dari Syahrul, untuk bertemu di rumah Kepala Sekolah.

Pos terkait